Pengikut

Minggu, 15 Juni 2014

ekspresi ketidaknyamanan yang polos

Saat itu, hari Sabtu 14 Juni 2014
Ada agenda pagi dari sekolah mbak dea
Hari ini, adalah hari pelepasan murid-murid playgroup besar dan TK B, alias wisuda. Kebetulan mbak Dea juga ikut wisuda kelompok bermain (KB) atau play group.
Pagi itu, setelah bangun tidur sudah terbayang betapa lucunya anak-anak kecil tampil sebagai wisudawan dan wisudawati serta mementaskan beberapa atraksi, ada menari, puisi, menyanyi, membaca doa sehari-hari, fashion show, dll. Mbak dea pun semangat. Tapi di balik semangatnya itu ada sesuatu yang sebenarnya tidak dia inginkan. Memakai jilbab saat baris wisuda dan foto bersama serta bersalaman di panggung. Dalam sorot matanya, mbak dea sangat tidak mau memakai jilbab. Semua merayu, termasuk kami sebagai orang tua, kami sadari rayuan kami juga ada unsur paksaan. Akhirnya beberapa detik sebelum naik ke panggung, mbak Dea mau memakai jilbab, tapi dengan penuh ketidak relaan bila di lihat dari tatapan matanya dan ekspresi polosnya. hal ini terbukti ketika naik di atas panggung minta saya temani, sampai salaman dengan gurunya saya juga masih di atas panggung. Alhamdulillah setelah itu mau saya tinggal turun. Dan acara wisuda KB selesai dengan mabk Dea mau menggunakan jilbabnya.
Beberapa saat kemudian, saatnya kelompok mbak Dea menunjukkan atraksi menarinya yang berjudul braindance. Ternyata sangat mengecewakan. Tidak terbayang sebelumnya. Ketika gladi resik dan di rumah begitu semangat tetapi ketika pementasannya mbak Dea hanya berdiri di atas panggung. Saya dan suami saat itu kecewa, marah dan kesal.
Ketika sudah turun panggung, saya tanya kenapa mbak Dea tidak mau menari, jawabnya gatal semua badannya. Karena sebelumnya memang terlalu banyak minum susu kotak (ada alergi dengan susu kotak). Saya sempat marah. Setahun yang lalu di acara yang sama mbak Dea tampil hebat, mau menari dengan lincahnya, tanpa paksaan dan rayuan.
Ya..itulah anak-anak. Butuh beberapa waktu hingga saya sadari arti kemarahan dan kekecewaan saya. Ada rasa menyesal dari lubuk hati saya. Emosional sekali ketika itu. Maafkan mama ya mbk dea...
Dari kejadian ini dapat saya simpulkan betapa polosnya anak2 itu, tidak berdaya ketika dimarahi. Dan 1 hal yang paling penting bagi saya, membiasakan anak sesuai ajaran islam itu tidak bisa seketika itu berhasil, perlu proses yang puanjang. Untuk berjilbab saja sangat susah, apalagi sudah dewasa...





Anak adalah tanggung jawab kami, amanah untuk kami, anugerah kami, dan penerus kami.
Doa kami sebagai orang tua, semoga mbak Dea bisa menjadi penyejuk hati kami, anak yang solihah, hormat dan patuh pada orang tua dan guru serta menjadi pribadi yang muslimah. amin...

Senin, 02 Juni 2014

memilih pemimpin

ketika keraguan datang dan masuk ke dalam fikiran kita, apa yang akan kita lakukan?
banyak menyarankan untuk sholat istikhoro
baca dan pelajari kitab suci al-quran
perbanyak baca berita dan bertanya kepada orang-orang yang ahli dalam bidangnya
mungkin itu yang umum di sarankan oleh beberapa orang

ketika sedikit kepedulian kita muncul untuk kebaikan sesama muslim, ketika itu pula muncul ganjalan-ganjalan dari berbagai arah.

ketika ingin memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, munculah rasa keraguan, apakah saya yang harus memperbaikinya? akankah lebih baik dari yang lain? mampukah saya dengan ilmu yang sangat sedikit ini?

belajar belajar dan belajar
belajar tidak boleh berhenti sampai nyawa terlepas dari jasad.

di negara tercinta ini, Indonesia Raya, sedang ramai dengan momen pemilihan calon orang nomor 1, the next presiden Indonesia. padahal pemilu capres tahun-tahun sebelumnya saya sangat tidak terganggu, pilih siapa saja sesuai hati no problem bagi saya. kebetulan waktu itu saya memilih presiden yang akhirnya menang dan berkuasa selama 2 periode. tetapi sekarang, entah mengapa saya merasa gak sedikit takut. takut bila the next presiden Indonesia bukan orang muslim, takut akan semakin banyaknya pemimpin-pemimpin yang non muslim. Rasa kasihan kepada saudara2 muslim yang dipimpin oleh pemimpin non muslim tiba-tiba muncul dalam hati dan fikiran.
Maaf bagi teman-teman yang non muslim jika tersinggung,
bukannya saya tidak percaya dengan kerja kalian, karna memang banyak pemimpin yang islam juga tidak baik, korupsi, melanggar ini dan itu. sementara yang saya tahu (edisi kurang belajar agama) kami umat muslim harus memilih yang mempunyai keyakinan sama. tujuan kita sama mencari ridho Allah dunia akhirat meski cara kita sangat bertentangan, kalau tujuannya saja tidak sama terus bagaimana caranya bisa sama.

Apakah kalau saya memilih capres no 1 akan menjadi musuh pendukung capres no 2? atau sebaliknya?

saya hanya ingin memilih presiden yang 1 keyakinan dan tidak menjadikan pimpinan saudara semuslim lainnya di pimpin oleh seorang non muslim.
itu alasan utama saya, bagaimana dengan saudara seagama saya ?

di sisi lain, di era moderen ini, sepak terjang dari capres kita banyak di beritakan di berbagai media, baik media sosial maupun elektonik, tetapi jujurkan mereka? sedangkan banyak media yang bisa di beli dengan uang dan sejenisnya, hanya demi perolehan di dunia yang hanya sementara ini.
kita memilih pemimpin pasti akan di mintai pertanggungjawaban di akhirat, bukan hanya pemimpinnya tapi juga yang memilih.
semoga kita tidak salah memilih.

ya Allah tunjukanlah kepada kami pemimpin yang terbaik
jauhkanlah keraguan kami dalam memilih pemimpin yang baik
kami tidak tau kebenaran yang haqiqi di dunia dan akhirat
hanya Engkau yang maha tahu atas segalanya
amin..