Saat itu, hari Sabtu 14 Juni 2014
Ada agenda pagi dari sekolah mbak dea
Hari ini, adalah hari pelepasan murid-murid playgroup besar dan TK B, alias wisuda. Kebetulan mbak Dea juga ikut wisuda kelompok bermain (KB) atau play group.
Pagi itu, setelah bangun tidur sudah terbayang betapa lucunya anak-anak kecil tampil sebagai wisudawan dan wisudawati serta mementaskan beberapa atraksi, ada menari, puisi, menyanyi, membaca doa sehari-hari, fashion show, dll. Mbak dea pun semangat. Tapi di balik semangatnya itu ada sesuatu yang sebenarnya tidak dia inginkan. Memakai jilbab saat baris wisuda dan foto bersama serta bersalaman di panggung. Dalam sorot matanya, mbak dea sangat tidak mau memakai jilbab. Semua merayu, termasuk kami sebagai orang tua, kami sadari rayuan kami juga ada unsur paksaan. Akhirnya beberapa detik sebelum naik ke panggung, mbak Dea mau memakai jilbab, tapi dengan penuh ketidak relaan bila di lihat dari tatapan matanya dan ekspresi polosnya. hal ini terbukti ketika naik di atas panggung minta saya temani, sampai salaman dengan gurunya saya juga masih di atas panggung. Alhamdulillah setelah itu mau saya tinggal turun. Dan acara wisuda KB selesai dengan mabk Dea mau menggunakan jilbabnya.
Beberapa saat kemudian, saatnya kelompok mbak Dea menunjukkan atraksi menarinya yang berjudul braindance. Ternyata sangat mengecewakan. Tidak terbayang sebelumnya. Ketika gladi resik dan di rumah begitu semangat tetapi ketika pementasannya mbak Dea hanya berdiri di atas panggung. Saya dan suami saat itu kecewa, marah dan kesal.
Ketika sudah turun panggung, saya tanya kenapa mbak Dea tidak mau menari, jawabnya gatal semua badannya. Karena sebelumnya memang terlalu banyak minum susu kotak (ada alergi dengan susu kotak). Saya sempat marah. Setahun yang lalu di acara yang sama mbak Dea tampil hebat, mau menari dengan lincahnya, tanpa paksaan dan rayuan.
Ya..itulah anak-anak. Butuh beberapa waktu hingga saya sadari arti kemarahan dan kekecewaan saya. Ada rasa menyesal dari lubuk hati saya. Emosional sekali ketika itu. Maafkan mama ya mbk dea...
Dari kejadian ini dapat saya simpulkan betapa polosnya anak2 itu, tidak berdaya ketika dimarahi. Dan 1 hal yang paling penting bagi saya, membiasakan anak sesuai ajaran islam itu tidak bisa seketika itu berhasil, perlu proses yang puanjang. Untuk berjilbab saja sangat susah, apalagi sudah dewasa...
Anak adalah tanggung jawab kami, amanah untuk kami, anugerah kami, dan penerus kami.
Doa kami sebagai orang tua, semoga mbak Dea bisa menjadi penyejuk hati kami, anak yang solihah, hormat dan patuh pada orang tua dan guru serta menjadi pribadi yang muslimah. amin...





Tidak ada komentar:
Posting Komentar